Sabtu, 31 Oktober 2026
Beranda › makro
makro Inflasi Indonesia 2025: 1,91% dan Apa Artinya (Panduan Espor

Inflasi Indonesia 2025: 1,91% dan Apa Artinya (Panduan Esportika)

Jumat, 30 Oktober 2026 23:00 WIB | Redaksi Esportika

Inflasi harga konsumen Indonesia pada 2025 tercatat 1,91%, turun 0,27 poin dibanding tahun sebelumnya (2,18%). Angka ini berasal dari World Bank Open Data dan menjadi salah satu indikator utama daya beli masyarakat.

Berapa angka inflasi Indonesia beberapa tahun terakhir?

TahunInflasi
20201,92%
20211,56%
20224,21%
20233,67%
20242,18%
20251,91%

Apa arti angka ini bagi masyarakat?

Inflasi mengukur kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Ketika inflasi turun, daya beli uang masyarakat menguat. Bagi rumah tangga, dampak paling terasa pada harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi.

Dari mana angka ini berasal?

Data diambil langsung dari World Bank Open Data, indikator FP.CPI.TOTL.ZG (inflasi harga konsumen tahunan). Angka diperbarui setiap tahun dan mencakup seluruh kelompok barang dan jasa dalam indeks harga konsumen.

Cara membaca inflasi tahunan dan tingkat harga

Inflasi tahunan menunjukkan laju perubahan harga dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, bukan tingkat harga itu sendiri. Karena itu, angka inflasi yang lebih rendah tidak otomatis berarti harga barang dan jasa turun; yang terjadi adalah kenaikan harga berlangsung lebih lambat dibandingkan periode pembanding. Pembaca perlu membedakan antara inflasi yang melambat dan penurunan harga secara umum. Istilah lain yang berguna dipahami adalah disinflasi, yaitu kondisi ketika inflasi masih positif tetapi lajunya menurun. Sementara itu, deflasi baru terjadi bila tingkat harga umumnya turun. Dengan cara membaca ini, angka inflasi dalam artikel sebaiknya dipahami sebagai indikator arah perubahan harga, bukan patokan langsung untuk menilai harga satu jenis barang tertentu.

Yang perlu dicek sebelum memakai angka untuk keputusan

Sebelum memakai angka inflasi untuk membaca daya beli atau mengambil keputusan, pembaca perlu memastikan definisi dan cakupan indikator yang dipakai konsisten. Indikator seperti FP.CPI.TOTL.ZG mengukur inflasi harga konsumen tahunan, sehingga perbandingan sebaiknya dilakukan dengan periode dan cakupan yang sama. Perbedaan sumber, waktu pembaruan, dan metode penyusunan dapat memengaruhi cara angka dibaca. Hal lain yang perlu dicek adalah relevansi angka agregat dengan kondisi rumah tangga. Inflasi mencakup seluruh kelompok barang dan jasa dalam indeks harga konsumen, sedangkan pengeluaran setiap rumah tangga tidak sama. Karena itu, angka umum perlu dibaca bersama konteks kebutuhan pokok dan biaya yang paling terasa bagi pembaca, tanpa menganggap pengalaman satu rumah tangga mewakili seluruh perekonomian.

Sumber: World Bank Open Data (data.worldbank.org)

Baca Juga